Wednesday, February 29, 2012

Konsep Desain Hotel Terbang : Manned Cloud di Paris


Wisata memberikan pendapatan yang tinggi bagi negara dan pengusahanya apabila dikelola dengan baik.Obyek Wisata kreatif dilakukan untuk

Thursday, February 23, 2012

Panel Surya dipasang Diatas Jembatan Kereta Api


Pemasangan panel surya diatas jembatan kereta api maupun diatas
 bangunan yang menutupi  rel merupakan ide cerdas agar tidak perlu
 biaya

Sunday, February 19, 2012

Wow, Celana Dalam Anti Granat dan Anti Peluru


Tentara Inggris dengan celana dalam anti peluru

Tahukah Anda, kini sudah ada celana dalam anti peluru untuk para tentara yang bertugas di medan perang. Memang belum banyak negara yang telah menggunakannya. Salah satu pengguna pakaian dalam antipeluru antara lain pasukan

Friday, February 17, 2012

Pesawat Transparan, Pesawat Masa Depan



Penumpang pesawat di masa depan akan dimanja dengan atap kabin transparan seakan jendela

Thursday, February 9, 2012

Genteng yang Berfungsi sebagai Panel Matahari (solar panel)


Bicara mengenai solar panel (panel matahari) yang biasa digunakan tidak terlepas dari bentuknya yang selalu kotak dan terdiri dari kaca-kaca kecil di dalamnya.
Tetapi produk yang diberi nama SRS Roofing (Solar Roofing Systems) sangat berbeda dari yang biasa kita lihat.
Panel matahari ini berbentuk seperti sebuah genteng dan cara pemasangannya tidak berbeda jauh dengan memasang genteng pada umumnya.
Dengan sistim SRS ini kita tidak perlu repot lagi memikirkan dimana letak tiang untuk menyangga panel matahari.



srs_technology.jpg


Atap SRS ini juga dibuat anti air dan tanpa bahan kaca sama sekali sehingga aman bila ada "perang batu" di dekat rumah anda. 
Sepertinya sudah saatnya beralih ke energi alternatif mengingat sebentar lagi pihak PLN akan memberikan "kejutan" bagi pemakai listrik di Indonesia.
Sumber berita
"Hammer & Nails" Style Solar Roof Tiles By SRS Energy

Monday, February 6, 2012

Jembatan Terpanjang di Indonesia, Kini & Yang akan Datang


Jembatan merupakan satu struktur yang dibuat untuk menyeberangi jurang atau rintangan seperti sungai, laut rel kereta api ataupun jalan raya. Seiring dengan berkembangnya teknologi, kini Indonesia memilki banyak jembatan megah dan dengan panjang ratusan meter. Beikut merupakan 12 jembatan terpanjang yang ada di Indonesia.
12. Jembatan Kutai Kartanegara (580 m)
Jembatan ini terletak di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Hal yang unik dari jembatan ini yaitu Jembatan ini dibangun mirip jembatan Golden Gate yang terletak di San Fransisco.
Jembatan Kutai Kartanegara, yang berdiri di atas Sungai Mahakam,  menghubungkan Tenggarong dengan Tenggarong seberang runtuh pada tanggal 26 November 2011. Jembatan tersebut hanya  berumur 10 tahun yang seharusnya bisa sampai 50 tahun. Meskipun Jembatan Kukar bukanlah jembatan gantung pertama di Indonesia, karena sebelumnya sudah dibangun jembatan gantung Mamberamo di Papua sepanjang 235 meter dan Jembatan Barito sepanjang 230 meter. Namun tiga jembatan gantung jenis suspension, ini secara teknis mempunyai karakteristik struktur yang berbeda dan metoda pelaksanaan yang berbeda pula.
11. Jembatan Kahayan (640 m)
Jembatan ini terletak di Kalimantan Tengah. Panjang jembatan ini 640 m dan lebar 9 meter. Jembatan ini menghubungkan Kabupaten Barito Utara dengan Barito Selatan.
10. Jembatan Tengku Fisabilillah / Jembatan Barelang (642 m) Batam

9. Jembatan Cipada (720m)
http://static.panoramio.com/photos/original/3233541.jpg
Jembatan ini berada di ruas tol cipularang yang menghubungkan ibu kota Indonesia, DKI Jakarta dengan ibu kota provinsi Jawa Barat, Bandung. Dengan tol ini, jarak antara Jakarta dan bandung yang sejauh 120 km dapat ditempuh hanya dengan 2 jam saja. Tol ini diresmikan pada tahun 2004.
8. Jembatan Rumpiang (753 m)
Jembatan ini terletak di Banjarmasin dan menyeberangi sungai Barito. Jembatan ini menghubungkan Banjarmasin dengan Muarabahan. Jembatan ini menggunakan konstruksi baja melengkung di tengah-tengahnya.
7. Jembatan Mahulu (789 m)
Jembatan ini terletak di Samarinda dan melintasi sungai Mahakam. Jembatan ini menghubungkan Samarinda dengan Samarinda Seberang. Jembatan ini memiliki panjang 789 m dan lebar 11 m. Selain itu, ketinggian muka air sungai dengan jembatan ini mencapai 18 m.
6. Jembatan Barito (1082 m)
Jembatan ini terletak di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Jembatan ini memiliki panjang 1082 m dan lebar 10,37 m. Ketinggian muka air sungai dengan jembatan yaitu 15-18 meter.
5. Jembatan Ampera (1.117 m)
Jembatan ini terletak di Palembang, Sumatra Selatan. Jembatan ini menyebarangi Sungai Musi. Satu hal yang membanggakan namun disayangkan yaitu, jembatan ini mempunyai mekanisme mengangkat jembatan apabila terdapat kapal besar yang melintas di bawahnya, dan ini merupakan satu-satunya jembatan yang mempunyai mekanisme seperti itu. Namun, sekarang mekanisme tersebut sudah tidak dapat digunakan kembali.
4. Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah / Jembatan Siak (1.196 m)
Jembatan ini terletak di Ibukota Provinsi Riau. Jembatan ini memiliki panjang 1196 m dan panjang 16,95 m. Hal unik yang terdapat di jembatan ini yaitu di puncak tiang jembatan ini terdapat restoran. Di dalam restoran tersebut kita dapat melihat pemandangan kota Riau yang mempesona.
3. Jembatan Pasupati (2.147 m)
Jembatan ini terletak di kota Bandung. Jembatan yang menjadi ikon baru kota Bandung ini memiliki panjang 2147 m dan lebar 21,53 m. Jembatan ini dapat mengatasi kemacetan yang sering melanda daerah tersebut.
2. Jembatan Suramadu (5.438 m)

Jembatan Suramadu merupakan jembatan yang membelah laut terpanjang di Indonesia. Jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan Pulau Madura ini memiliki panjang 5.483 m dan lebar sekitar 30 m Jembatan ini menjadi jembatan terpanjang nomor 4 di Asia Tenggara.
1. Ruas Tol Cawang-Tanjung Priok-Pluit (25.021m/2,5 Km)
http://farm5.static.flickr.com/4054/4634030571_09bd19178f.jpg
Jembatan ini terletak di ibu kota negara Indonesia, DKI Jakarta. ruas tol ini  terbagi menjadi 2 bagian, yaitu ruas Cawang-Tanjung Priok (Tol Ir. Wiyoto Wiyono) dan ruas Tanjung Priok-Pluit (Tol Pelabuhan). Tol ini membentang dari Timur ke bagian Utara ibu kota Jakarta. Tol ini sangat berguna mengurai kemacetan di daerah tersebut walaupun seringkali masih terjadi kemacetan karena jumlah kendaraan di Jakarta yang tak terkendali.
Selain 12 jembatan tersebut rencananya Indonesia akan membangun satu lagi jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Sumatra. Jembatan rencananya akan berada pada 70 meter di atas permukaan laut, dan melewati tiga pulau-pulau kecil di selat itu, yaitu Pulau Prajurit, Ular, dan Sangiang. Ini merupakan jembatan dengan panjang 30 kilometer yang akan menjadi jembatan terpanjang di Asia Tenggara dan ke 4 terpanjang di dunia.
Rencananya, pembangunan jembatan ini akan menghabiskan dana Rp 100 triliun dan kini meningkat menjadi Rp215,37 triliun,dan Rp 500 miliar per tahun untuk operasional jembatan itu. serta jembatan ini akan dilengkapi dengan rel kereta yang membentang di sepanjang jembatan.Bila tak ada halangan jembatan ini akan dibangun pada tahun 2012 dan selesai tahun 2025

Desain Jembatan Selat Sunda dengan jalur rel Kereta Api di tengahnya

Jembatan ini akan dilengkapi infrastruktur seperti transmisi gas, rel kereta api, transmisi listrik, dan transmisi air minum.Sementara itu, untuk pengembangan kawasan, akan disusun berbagai macam zona seperti zona industri, pariwisata, energi, logistik, pengembangan teknologi, dan pengolahan ekspor. Lalu lintas antar Pulau Jawa-Sumatera itu diperkirakan dapat mencapai 20.000-27.000 kendaraan per hari pada 2025. Bentangan jembatan terpanjang pada rangkaian JSS direncanakan berupa jembatan suspension yang teridiri atas dengan bentang tepi seluas 2 x 800 meter, bentang tengah 2200 meter, dan lebar jembatan sepanjang 60 m .Jembatan ini dirancang bakal memiliki fungsi sebagai jalur lalu lintas raya selebar 2X3 meter, jalur darurat 2 x 1 meter, dan jalur Lintasan Ganda kereta rel.





Thursday, February 2, 2012

Berbagai Bentuk Panel Surya yang Eksotis


Di tangan para arsitek, panel-panel surya bisa dibikin artistic. Sebuah konsep dari ZM Architecture, perusahaan yang berbasis di Glasgow, baru-baru ini memenangkan kompetisi International Design Awards (IDA) Land and Sea Competition. Perusahaan ini mendisain panel-panel surya dengan mengambil bentuk bunga teratai, bunga mengambang yang banyak ditemukan di River Clyde, Glasgow.
Lembaran panel-panel surya berbentuk bunga teratai di permukaan sungai River Clyde, Glasgow (Foto: BBC London)
Bunga teratai mengambang di permukaan sungai (Foto: nathanfarb)
Di dalam proposal yang sudah disetujui pemerintah Glasgow tersebut dikatakan bahwa desain mereka dimaksudkan supaya panel-panel surya tersebut membaur dengan kondisi alami sungai Clyde.
Listrik yang dihasilkan oleh panel-panel surya yang tiangnya dipancangkan ke dasar sungai tersebut diekspor ke jaringan listrik nasional. Supaya “bunga-bunga teratai” dapat bergerak mengikuti arah matahari, akan dipasang motor-motor listrik.
Sebelum ini solar sel sudah digunakan untuk memperindah taman. Jika anda punya kolam kecil di taman rumah, anda bisa memasang air mancur mengunakan solar sel berbentuk bunga teratai. Energi listrik yang dihasilkan solar sel bunga teratai ini akan disimpan ke baterai yang menggerakkan pumpa air.
Air mancur mini menggunakan solar sel bunga teratai (Foto: earthwhile)
Solar set bunga teratai yang berukuran 9 inci x 3 inci ini dapat memancarkan air setinggi 18 inci. Jika pada kolam dipasang cukup banyak air mancur mini, maka kolam anda akan bertambah indah. Yang juga menarik, anda bisa punya air mancur sepanjang hari tanpa membebani rekening listrik anda.

Balon Surya (Solar Balloons)

Seorang ilmuwan Israel melakukan pengembangan sumber energi terbarukan dengan cara baru. Dia menempelkan modul surya ke sebuah balon dan digantungkan di udara. Sistem ini memiliki keuntungan antara lain: dapat menangkap cahaya matahari secara langsung tanpa tertutup pohon, bangungan, dsb.

Pengisian Tenaga Listrik Umum untuk kendaraan
 

Wednesday, February 1, 2012

Kapal Ferry Penumpang dengan Tenaga Angin & Photovoltaik


Kapal ferry penumpang futuristik sebagaimana yang ditunjukan dibawah ini menggunakan layar panel surya. Solar Sailor ini mengkombinasikan energi surya dan angin untuk mendorong kapal.
Ada sejumlah batasan-batasan desain yang para arsitek kapal biasanya hadapi ketika mendesain kapal atau perahu layar. Angin yang bertiup dari arah horizontal biasanya mendorong kapal ke posisi miring, sehinggi menciptakan olengan (rolling) yang sering pada kendaraan laut tersebut. Di samping itu, jika panel surya hendak dipasang maka jumlah energinya tidak sepenuhnya cukup untuk menggerakkan motor listrik yang mendorong kapal. Di pihak lain, jika layar saja yang hendak diinstall maka ia tidak akan sepenuhnya efektif dalam mendorong kapal/ perahu sepanjang waktu karena tiupan angin tidak dapat diprediksi kontinuitasnya. Ada saat-saat ketika tidak ada angin yang bertiup, atau walaupun ada, arahnya mungkin dari depan.

Jadi para arsitek kapal harus mengkompromikan semua batasan-batasan rancangan tersebut untuk mencapai sebuah desain yang optimum yang secara efektif bergantung pada energi terbarukan. Untuk meminimalkan tahanan air dan mempertahankan stabilitas, catamaran (lambung kembar) atau trimaran (tiga lambung) dapat diterapkan. Bahan lambung harus seringan mungkin sehingga kapal tidak membutuhkan terlalu banyak energi untuk bergerak.
Penyempurnaan-penyempurnaan dalam teknologi photovoltaic telah membawa banyak kemungkinan desain menjadi kenyataan. Contohnya, sel-sel photovoltaic thin film atau yang secara komersial disebut panel photovoltaic fleksibel dalam masa datang akan dipertimbangkan ketika para arsitek kapal hendak merancanakan layar untuk perahu atau kapal mereka. Di samping memiliki bobot yang ringan, fleksibilitasnya dapat memungkinkannya diintegrasikan ke dalam layar. Tetapi panel photovoltaic fleksible harus dialasi dengan material layar yang kuat yang dapat menahan tegangan dan regangan yang disebabkan oleh tiupan angin.

Aplikasi layar tenaga matahari akan menjadi pilihan utama di masa depan. Jadi, sebuah perahu atau kapal yang ramah lingkungan (a green boat) akan ditenagai oleh motor-motor listrik yang listriknya disuplai oleh sebuah layar yang juga mendorong perahu tersebut.

Masalah lain yang harus kita pertimbangakn adalah zat-zat beracun yang terkandung di dalam baterai yang menyimpan energi listrik tersebut. Baterai harus ditutup rapat (sealed) dengan baik guna mencegah kebocoran-kebocoran yang dapat mencemarkan air laut.
Ketika semua batasan desain ini telah dipecahkan atau dikompromikan, maka penumpang dapat menikmati perjalanan mereka bebas dari kebisingan, vibrasi, dan yang penting lagi asap beracun yang dilepaskan oleh mesin diesel.

Boat di atas dipresentasikan pada sebuah halaman web dengan linkhttp://www.inhabitat.com/2007/10/09/transportation-tuesday-the-solar-sailor/. Halaman web tersebut menyebutkan bahwa perahu ferry ini akan mengangkut penumpang ke Alcatraz, sebuah pulau penjara yang terletak di tengah teluk San Francisco. Oleh Charles Roring

Tuesday, January 31, 2012

Konsepsi PLTS yang lebih Optimal


1. PLTS dengan Sistem Penyimpanan Energi Garam Mendidih(Molten salt) 
Perusahaan SolarReserve dalam usaha mengatasi permasalahan penyerapan energi matahari yang berhenti di malam hari dengan menggunakan teknologi yang dapat menyimpan energi panas cahaya matahari di dalam larutan garam mendidih. Proyek pertama SolarReserve akan menghasilkan listrik 500 MW (dapat menyediakan listrik sekitar 400 ribu rumah), setara dengan kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tapi tidak menghasilkan gas rumah kaca.
Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga surya lain, teknologi milik SolarReserve dapat menghasilkan listrik saat langit mendung, bahkan malam hari. Dalam 10 hingga 15 tahun ke depan, SolarReserve merencanakan membangun 10 pembangkit listrik jenis ini.
Pembangkit listrik yang menggabungkan energi surya dan larutan garam ini memiliki prinsip kerja hampir serupa dengan pembangkit listrik tenaga surya di Seville. Di Seville terdapat ratusan cermin yang memantulkan sinar matahari ke sebuah tower. Pada tower ini diletakkan tanki besar berisi air. Energi matahari akan memanaskan air di dalam tanki, lalu menghasilkan uap panas, yang kemudian disalurkan ke turbin-turbin untuk menghasilkan listrik.
114.jpg
Pembangkit listrik tenaga surya (thermal) 11 MW di Seville, Spanyol (Foto:www.ens-newswire.com)


Pada teknologi milik SolarReserve, mereka tidak menggunakan ‘air biasa’ di dalam tanki, tapi air garam (molten salt). Ratusan cermin memantulkan cahaya matahari ke tanki, memanaskan air garam hingga 1,000 derajat Fahrenheit (538 derajat Celsius). Air garam mendidih (yang membawa uap panas) lalu dipompa ke generator untuk memutar turbin uap dan menghasilkan listrik.
115.jpg
Diagram pembangkit listrik tenaga surya-garam mendidih
Hingga di sini, prinsip kerja pembangkit milik SolarReserve masih sama dengan pembangkit di Seville. Lalu apa yang membedakan? Pembangkit di Seville tidak dapat beroperasi di malam hari atau saat cuaca mendung, sedangkan milik SolarReserve dapat bekerja 24 jam sehari. Inilah keunggulan utama teknologi baru ini.
Rahasianya adalah karena SolarReserve menggunakan garam, campuran sodium dan potassium nitrate. Larutan tersebut memiliki kemampuan menyimpan panas. Riset yang dilakukan The National Solar Thermal Test Facilitymenyimpulkan bahwa garam mendidih adalah larutan yang paling baik digunakan menyalurkan energi panas. Selanjutnya lembaga tersebut mengatakan bahwa panas yang tersimpang masih cukup untuk memutar turbin uap tekanan tinggi, walaupun saat tidak ada sinar matahari.
Keuntungan lain dari teknologi ini adalah karena tidak melibatkan bahan-bahan yang dapat terbakar, tidak beracun, dan yang paling penting tidak menghasilkan karbon dioksida.
sumber dari theworldofrenewables

2. Solar Sel Full Spektrum (Full-spectrum Solar Cells)

Salah satu alasan utama mengapa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kesulitan mengimbangi pembangkit listrik konvensional adalah karena efisiensinya yang rendah. Sehingga untuk mendapatkan energi listrik yang besar diperlukan luasan modul surya yang besar pula, yang berarti biaya pun besar.
Mayoritas solar sel komersial saat ini memiliki efisiensi sekitar 15%. Sedangkan efisiensi sebesar 30% sudah berhasil diuji di laboratorium namun belum dapat diproduksi untuk keperluan komersial.
Mengapa solar sel belum bisa mengkonversi radiasi matahari dengan efisiensi tinggi? Alasannya adalah karena material solar sel hanya mampu mengkonversi sebagian dari spektrum cahaya matahari yang diterimanya. Menurut Tomas Marvart dalam bukunya berjudul Solar Electricity, hanya sekitar 2/3 dari spektrum cahaya matahari yang dapat dikonversi menjadi listrik oleh material solar sel yang ada sekarang.
Namun kini ada harapan baru untuk mengkonversi semua spektrum cahaya matahari menjadi listrik. Riset yang dilakukan oleh Wladek Walukiewicz di Lawrence Berkeley National Laboratory telah berhasil mengkonversi seluruh spektrum. Dan yang juga menarik adalah bahwa proses produksi solar sel baru ini dapat dilakukan menggunakan teknik produksi konvensional.
Prinsip yang digunakan oleh Wladek Walukiewicz dan kawan-kawan adalah bahwa: tidak ada material yang mampu merespon semua panjang gelombang radiasi matahari, masing-masing material bekerja pada panjang gelombang yang berbeda pula, maka untuk memungkinkan proses konversi seluruh spektrum dilakukan penggabungan beberapa bahan berbeda dengan sensitifitas spektrum berbeda pula.
Satu cara untuk menggabungkan berbagai bahan adalah dengan menumpuk lapisan-lapisan semikonduktor berbeda dan menggabungkannya secara seri menggunakan kawat. Teknik ini walaupun mampu menggabungkan lapisan-lapisan berbeda, namun strukturnya masih rumit sehingga menyulitkan dalam proses fabrikasi. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membuat satu lapisan namun mampu bekerja dengan spektrum berbeda.
Tim peneliti mengatakan bahwa teknik baru yang mereka perkenalkan akan menghasilkan solar sel efisiensi tinggi dengan harga yang labih murah. Namun sayang, mereka belum menyebutkan setinggi apa efisiensi yang dapat dihasilkan.
Sumber:http://newscenter.lbl.gov/feature-stories/2011/01/24/practical-full-spectrum/ http://kunaifi.wordpress.com/category/209-tenaga-matahari


3. Solar sel gabungan dari beberapa Atap Bangunan (Rooftop PV systems)
Salah satu kelemahan dari energi surya dibutuhkan lahan yang cukup luas untuk mendapatkan kapasitas energi besar. Sebuah inovasi kebijakan yang digagas di Amerika sungguh menarik, pemilik rumah dapat uang sewa dari pembangkit yang dipasang diatap rumahnya.
Inovasi tersebut dilakukan melalui program energi surya di atap bangunan (rooftop PV systems). Instalasi solar energi rooftop dapat dipasang di atas atap kantor-kantor atau bahkan rumah-rumah penduduk. Inovasi ini didasari atas filosofi pembangkit listrik tersebar (distributed power generation), bukan terpusat sebagaimana lazimnya. Pembangkit-pembangkit kecil, jika dibuat dalam jumlah banyak, jika diakumulasi menjadi pembangkit skala besar. Program ini dimungkinkan melalui skema solar power purchase agreements (PPAs) dan penyewaan atap rumah (solar leasing).
2051
Solar system di atap Perpustakaan Universitas Murdoch Australia. Merupakan sistem surya tersambung jaringan listrik (grid) terbesar di Western Australia. Kapsital 26 kW terdiri dari hampir 200 panel surya, menghasilkan sekitar 30kWh energi listrik sehari. (Sumber: Murdoch University)
Sebegaimana dirilis Worldofrenewables, pemerintah kota Santa Barbara di California baru-baru ini menyewakan atap bangunan pemerintah kota untuk sistem PV berkapasitas 330 kW untuk masa 20 tahun PPA. Proyek ini tidak hanya menguntungkan secara estetika, tapi juga memberi peluang bagi 1.040 rumah untuk mendapat suplai listrik dari sistem PV. Mengingat besarnya peluang dari inovasi ini, pemerintah kota dalam waktu dekat juga akan menyewakan lokasi parkir di Santa Barbara Airport.
2062Desain solar sistem pada lokasi parkir. Memiliki 3 keuntungan; menghasilkan listrik, tidak memerlukan lokasi khusus, dan melindungi kendaraan dari panas sinar matahari (Foto: PV-tech)
Penyewaan atap untuk solar sistem juga penting untuk pengembangan energi surya di perkotaan, seiring dengan biaya pengadaan dan instalasi solar sistem yang makin murah.





Monday, January 30, 2012

PLTS untuk Perkotaan di beberapa Negara

Pembangkit listrik tenaga surya merupakan energi yang terbarukan dan tidak pernah habis selama matahari bersinar. Di masa mendatang dengan ditemukannya teknologi dan bahan yang semakin murah, diharapkan kota kota di dunia dapat memanfaatkan energi listrik bersih ini secara optimal. Dimulai adanya aturan keharusan setiap Mal,Industri dan bangunan pemerintah menggunakan PLTS mandiri.


1. PLTS di Spanyol
Spanyol Miliki PLTS Terbesar di Dunia
Spanyol salah satu negara di eropa ini ternyata memiliki sebuah pusat pembangkit listrik dengan tenaga surya terbesar di dunia saat ini.


Dengan menggunakan 120.000 solar cell di lahan seluas 100 hektar dapat menghasilkan kapasitas sebesar 20 megawatts atau setara dengan pembangkit listrik rumahan yang dapat "menghidupi" 20.000 rumah.


Total biaya yang dikeluarkan adalah sekitar 28 miliar dollar dan diharapkan dapat mengurangi emisi gas CO2 sekitar 42.000 ton per tahun.


Satu lagi tindakan untuk peduli terhadap lingkungan walaupun ada saja yang komplain bahwa pembukaan lahan ini telah "menghabisi" sebagian hutan.
2. PLTS di Kota Sakai-Jepang
Pembangkit listrik Tenaga Surya di Kota Sakai, Jepang
Pemerintah Jepang melakukan kerjasama dengan  perusahaan elektronik Jepang, SHARP, pemerintah kota Sakai dan Kansai Electric Power akan membuat pembangkit listrik tenaga surya (solar powered generation plan) di kota Sakai di bagian pinggir pantai/ laut.

Proyek telah selesai sekitar tahun 2010 yang dilakukan dengan 2 tahap yaitu tahap pertama dibangun pembangkit listrik dengan kapasitas 10 Megawatts dan tahap kedua dengan kapasitas 28 Megawatts.

Manfaatnya?? rencananya semua pabrik yang ada di daerah tersebut (termasuk SHARP) akan menggunakan pembangkit listrik ini dan sudah pasti akan mengurangi pencemaran lingkungan serta hemat BBM (bahan bakar minyak).sumber :http://www.metrogaya.com

3. PLTS di Australia
solar cell di Auastralia

Di tahun 2008, Pemerintah Federal Australia meluncurkan Program ‘Australia’s Solar City’. Program ini merupakan program terbaru yang melibatkan secara aktif masyarakat dan pemerintah lokal di tujuh kota. Pemerintah Federal Australia mengucurkan dana AUSD 94 juta. Kota-kota yang terpilih untuk mengikuti program tersebut yaitu  7 kota : Alice Spring, Townsville, Perth, Blacktown, Coburg, Adelaide and Central Victoria. Dari ketujuh kota tersebut, diharapkan sebanyak 76.000 ton CO2 per tahun dapat diturunkan melalui pemasangan 3.200 panel fotovoltaik.
Pendekatan Pemerintah Federal Australia di dalam mengembangkan energi surya patut ditiru. Pemerintah Federal tidak segan untuk mengucurkan dana subsidi kepada kota-kota tersebut, asalkan masyarakat dan pemerintah setempat mampu menyediakan dana tambahan. Seperti Kota Townsville yang menerima kucuran dana sebesar AUSD 15 juta dari Pemerintah Federal. Konsorsium Townsville yang terdiri dari Pemerintah Queensland, Perusahaan Energi Ergon,
Dewan Kota Townsville, Perusahaan Delfin Lend Lease, Honeysombes Property Group serta Cafalo Pty Ltd, telah menyediakan dana tambahan sebesar AUSD 32 juta. Dengan label ‘Smart Living Style’ atau ‘Green Living Style’, pemerintah dan sektor industri mengajak masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi di dalam kegiatan audit energi secara gratis.
Masyarakat yang rumahnya telah diaudit dapat menerima peralatan hemat energi secara gratis pula. Bukan hanya itu, masyarakat juga mempunyai kesempatan untuk mendapatkan peralatan energi surya dengan harga yang telah disubsidi.
Selanjutnya setiap kota yang termasuk ke dalam Program ‘Solar City’ tersebut dilengkapi dengan Smart Living Centre. Smart Living Centre merupakan one stop shop yang menyediakan berbagai peralatan dan suku cadang dari teknologi energi surya, seperti teknologi pemanas air, teknologi fotovoltaik, lampu hemat energi dan teknologi alat ukur yang canggih.Ditambah pula, masyarakat diharuskan menggunakan lampu hemat energi. Nah, jika masyarakat berhasil menurunkan pemakaian listriknya sebesar 10%-20%, maka Pemerintah akan memberikan diskon untuk tagihan listriknya sebesar 10%. 
Jika pemakaian listrik dapat dirurunkan lebih dari 20%, maka Pemerintah akan memberikan diskon sebesar 20%. Program ‘Solar City’ ini juga merupakan sarana untuk mengumpulkan data carbon footprint. Data tersebut akan dikelola dan dikaji oleh perguruan tinggi yang telah ditunjuk. Data yang dikumpulkan akan digunakan sebagai dasar kebijakan di bidang perencanaan pembangunan, energi dan air.sumber :http://www.alpensteel.com

4. PLTS di Amerika
Siapakah pemilik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terbesar di Amerika? Jawabannya adalah Angkatan Udara (AU). Cukup mengherankan, karena institusi ini sebelumnya tidak dikenal sebagai penyokong pengembangan energi terbatukan (ET) yang aktif.
Angkatan Udara Amerika (the US Air Force) adalah lembaga milik pemerintah yang paling besar kebutuhan energinya. Baru-baru ini mereka membuka PLTSdengan kapasitas 14 MW, sekaligus menjadi system terbesar di Amerika. Sistem ini akan menyediakan seperempat suplai energi bagi fasilitas militer di markas AU Nellis di gurun Nevada. Markas tersebut memiliki populasi 12 ribu orang tentara dan keluarga.
103.jpg
PLTS Nellis milik Angkatan Udara Amerika di Nvada (Sumber: Departemen Energi Amerika)
Gurun Nevada mendapatkan cahaya matahari kontinyu sepanjang tahun. Keuntungan alamiah ini menjadi alasan pemilihan system energi surya untuk penyediaan energi di kawasan tersebut.
Sebelum ini, Amerika telah memiliki Sistem energi surya termal raksasa. Di Nevada terdapat system energi surya termal berkapasitas 64 MW dan 553 MW di gurun Mojave.
Tapi yang satu ini adalah system photovoltaic (PV) untuk pembangkitan listrik. Untuk mengerjakan proyek ini, AU Amerika mempercayakan kepada perusahaan SunPower. Salah satu kelebihan system ini adalah karena dilengkapi dengan SunPower T20 Solar Tracking System yang dapat mengikuti arah gerakan matahari sepanjang hari.
Sistem ini diperkirakan mengurangi emisi karbon hingga 24 ribu ton setiap tahun.
sumber dari worldofrenewables

5. PLTS di Jerman
Jerman adalah salah satu negara yang sudah berhasil melewati hambatan politis dan birokrasi, khususnya di bidang energi surya (solar energy). Negeri itu kini menjadi pasar photovoltaic (PV) terbesar dunia. Berita teranyar dari Jerman adalah pembangunan 1,15 GWp PV system. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 55% kapasitas PV seluruh dunia dipasang di Jerman. Luar biasa. Tahun lalu, penjualan industri PV Jerman mencapai 3,8 Milyar Euro.
Mengapa Jerman bisa mencapai prestasi seunggul itu? Jawabannya tidak hanya karena Jerman percaya bahwa PV bisa menjadi jawaban atas masalah energi dan lingkungan saat ini, tapi karena kepercayaan itu didorong oleh adanyapolitical will.
102.gif
Trend pengembangan PV system di Jerman 1990-2002 (Sumber: International Energy Agency)
Karena sudah ada niat, lalu dibuatlah instrumen kebijakannya bernamaRenewable Energies Act. Peraturan ini mewajibkan perusahaan listrik Jerman membeli listrik dari pemilik PV system selama 20 tahun. Harganye berkisar 37,96 hingga 54,21 Euro per kWh. Bahkan, di Jerman bagian Timur ada insentif hingga 50% dari initial cost bagi sesiapa yang memasang PV system. Mekanisme yang dikenal dengan istilah “feed in tariff” ini telah menyokong produksi PV system.
Sebagai hasilnya, investor PV pun berebut masuk Jerman. Yang terbaru adalahARISE Technologies Corporation dari Canada. Sebelum itu, beberapa perusahaan besar seperti Nanosolar, Signet Solar dan First Solar telah lebih dahulu menuai keuntungan di sana. Trend ini diyakini akan bertahan bahkan meningkat sejalan komitmen Jerman mengurangi konsumsi energi fosil.