Monday, January 30, 2012

PLTS untuk Perkotaan di beberapa Negara

Pembangkit listrik tenaga surya merupakan energi yang terbarukan dan tidak pernah habis selama matahari bersinar. Di masa mendatang dengan ditemukannya teknologi dan bahan yang semakin murah, diharapkan kota kota di dunia dapat memanfaatkan energi listrik bersih ini secara optimal. Dimulai adanya aturan keharusan setiap Mal,Industri dan bangunan pemerintah menggunakan PLTS mandiri.


1. PLTS di Spanyol
Spanyol Miliki PLTS Terbesar di Dunia
Spanyol salah satu negara di eropa ini ternyata memiliki sebuah pusat pembangkit listrik dengan tenaga surya terbesar di dunia saat ini.


Dengan menggunakan 120.000 solar cell di lahan seluas 100 hektar dapat menghasilkan kapasitas sebesar 20 megawatts atau setara dengan pembangkit listrik rumahan yang dapat "menghidupi" 20.000 rumah.


Total biaya yang dikeluarkan adalah sekitar 28 miliar dollar dan diharapkan dapat mengurangi emisi gas CO2 sekitar 42.000 ton per tahun.


Satu lagi tindakan untuk peduli terhadap lingkungan walaupun ada saja yang komplain bahwa pembukaan lahan ini telah "menghabisi" sebagian hutan.
2. PLTS di Kota Sakai-Jepang
Pembangkit listrik Tenaga Surya di Kota Sakai, Jepang
Pemerintah Jepang melakukan kerjasama dengan  perusahaan elektronik Jepang, SHARP, pemerintah kota Sakai dan Kansai Electric Power akan membuat pembangkit listrik tenaga surya (solar powered generation plan) di kota Sakai di bagian pinggir pantai/ laut.

Proyek telah selesai sekitar tahun 2010 yang dilakukan dengan 2 tahap yaitu tahap pertama dibangun pembangkit listrik dengan kapasitas 10 Megawatts dan tahap kedua dengan kapasitas 28 Megawatts.

Manfaatnya?? rencananya semua pabrik yang ada di daerah tersebut (termasuk SHARP) akan menggunakan pembangkit listrik ini dan sudah pasti akan mengurangi pencemaran lingkungan serta hemat BBM (bahan bakar minyak).sumber :http://www.metrogaya.com

3. PLTS di Australia
solar cell di Auastralia

Di tahun 2008, Pemerintah Federal Australia meluncurkan Program ‘Australia’s Solar City’. Program ini merupakan program terbaru yang melibatkan secara aktif masyarakat dan pemerintah lokal di tujuh kota. Pemerintah Federal Australia mengucurkan dana AUSD 94 juta. Kota-kota yang terpilih untuk mengikuti program tersebut yaitu  7 kota : Alice Spring, Townsville, Perth, Blacktown, Coburg, Adelaide and Central Victoria. Dari ketujuh kota tersebut, diharapkan sebanyak 76.000 ton CO2 per tahun dapat diturunkan melalui pemasangan 3.200 panel fotovoltaik.
Pendekatan Pemerintah Federal Australia di dalam mengembangkan energi surya patut ditiru. Pemerintah Federal tidak segan untuk mengucurkan dana subsidi kepada kota-kota tersebut, asalkan masyarakat dan pemerintah setempat mampu menyediakan dana tambahan. Seperti Kota Townsville yang menerima kucuran dana sebesar AUSD 15 juta dari Pemerintah Federal. Konsorsium Townsville yang terdiri dari Pemerintah Queensland, Perusahaan Energi Ergon,
Dewan Kota Townsville, Perusahaan Delfin Lend Lease, Honeysombes Property Group serta Cafalo Pty Ltd, telah menyediakan dana tambahan sebesar AUSD 32 juta. Dengan label ‘Smart Living Style’ atau ‘Green Living Style’, pemerintah dan sektor industri mengajak masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi di dalam kegiatan audit energi secara gratis.
Masyarakat yang rumahnya telah diaudit dapat menerima peralatan hemat energi secara gratis pula. Bukan hanya itu, masyarakat juga mempunyai kesempatan untuk mendapatkan peralatan energi surya dengan harga yang telah disubsidi.
Selanjutnya setiap kota yang termasuk ke dalam Program ‘Solar City’ tersebut dilengkapi dengan Smart Living Centre. Smart Living Centre merupakan one stop shop yang menyediakan berbagai peralatan dan suku cadang dari teknologi energi surya, seperti teknologi pemanas air, teknologi fotovoltaik, lampu hemat energi dan teknologi alat ukur yang canggih.Ditambah pula, masyarakat diharuskan menggunakan lampu hemat energi. Nah, jika masyarakat berhasil menurunkan pemakaian listriknya sebesar 10%-20%, maka Pemerintah akan memberikan diskon untuk tagihan listriknya sebesar 10%. 
Jika pemakaian listrik dapat dirurunkan lebih dari 20%, maka Pemerintah akan memberikan diskon sebesar 20%. Program ‘Solar City’ ini juga merupakan sarana untuk mengumpulkan data carbon footprint. Data tersebut akan dikelola dan dikaji oleh perguruan tinggi yang telah ditunjuk. Data yang dikumpulkan akan digunakan sebagai dasar kebijakan di bidang perencanaan pembangunan, energi dan air.sumber :http://www.alpensteel.com

4. PLTS di Amerika
Siapakah pemilik pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terbesar di Amerika? Jawabannya adalah Angkatan Udara (AU). Cukup mengherankan, karena institusi ini sebelumnya tidak dikenal sebagai penyokong pengembangan energi terbatukan (ET) yang aktif.
Angkatan Udara Amerika (the US Air Force) adalah lembaga milik pemerintah yang paling besar kebutuhan energinya. Baru-baru ini mereka membuka PLTSdengan kapasitas 14 MW, sekaligus menjadi system terbesar di Amerika. Sistem ini akan menyediakan seperempat suplai energi bagi fasilitas militer di markas AU Nellis di gurun Nevada. Markas tersebut memiliki populasi 12 ribu orang tentara dan keluarga.
103.jpg
PLTS Nellis milik Angkatan Udara Amerika di Nvada (Sumber: Departemen Energi Amerika)
Gurun Nevada mendapatkan cahaya matahari kontinyu sepanjang tahun. Keuntungan alamiah ini menjadi alasan pemilihan system energi surya untuk penyediaan energi di kawasan tersebut.
Sebelum ini, Amerika telah memiliki Sistem energi surya termal raksasa. Di Nevada terdapat system energi surya termal berkapasitas 64 MW dan 553 MW di gurun Mojave.
Tapi yang satu ini adalah system photovoltaic (PV) untuk pembangkitan listrik. Untuk mengerjakan proyek ini, AU Amerika mempercayakan kepada perusahaan SunPower. Salah satu kelebihan system ini adalah karena dilengkapi dengan SunPower T20 Solar Tracking System yang dapat mengikuti arah gerakan matahari sepanjang hari.
Sistem ini diperkirakan mengurangi emisi karbon hingga 24 ribu ton setiap tahun.
sumber dari worldofrenewables

5. PLTS di Jerman
Jerman adalah salah satu negara yang sudah berhasil melewati hambatan politis dan birokrasi, khususnya di bidang energi surya (solar energy). Negeri itu kini menjadi pasar photovoltaic (PV) terbesar dunia. Berita teranyar dari Jerman adalah pembangunan 1,15 GWp PV system. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 55% kapasitas PV seluruh dunia dipasang di Jerman. Luar biasa. Tahun lalu, penjualan industri PV Jerman mencapai 3,8 Milyar Euro.
Mengapa Jerman bisa mencapai prestasi seunggul itu? Jawabannya tidak hanya karena Jerman percaya bahwa PV bisa menjadi jawaban atas masalah energi dan lingkungan saat ini, tapi karena kepercayaan itu didorong oleh adanyapolitical will.
102.gif
Trend pengembangan PV system di Jerman 1990-2002 (Sumber: International Energy Agency)
Karena sudah ada niat, lalu dibuatlah instrumen kebijakannya bernamaRenewable Energies Act. Peraturan ini mewajibkan perusahaan listrik Jerman membeli listrik dari pemilik PV system selama 20 tahun. Harganye berkisar 37,96 hingga 54,21 Euro per kWh. Bahkan, di Jerman bagian Timur ada insentif hingga 50% dari initial cost bagi sesiapa yang memasang PV system. Mekanisme yang dikenal dengan istilah “feed in tariff” ini telah menyokong produksi PV system.
Sebagai hasilnya, investor PV pun berebut masuk Jerman. Yang terbaru adalahARISE Technologies Corporation dari Canada. Sebelum itu, beberapa perusahaan besar seperti Nanosolar, Signet Solar dan First Solar telah lebih dahulu menuai keuntungan di sana. Trend ini diyakini akan bertahan bahkan meningkat sejalan komitmen Jerman mengurangi konsumsi energi fosil.

1 comment:

  1. Nice info, thanks for sharing. Please visit janaloka.com as well. The #1 Solar energy crowd!

    ReplyDelete