Thursday, 19 July 2012

Pabrik Solar Cell PT.LEN Indonesia Dibangun di Karawang


Pemerintah Indonesia melalui perusahaan BUMN PT.LEN Industri akan membuat pabrik sel surya di Karawang Jawa Barat dengan prioritas produksinya sel surya kristalin Silikon. Teknologi kristalin silikon/c-Si lebih dipilih dibandingkan Thin FilDsTe, CIGS dan a-Si), sebab  lebih baik, umur lebih panjang (25 tahun), dari segi pertimbangan biaya investasi kristalin silikon lebih kecil sebab bisa dibagi menjadi beberapa industri tersendiri. Secara detail kita bisa simak uraian berikut ini.(admin)

Jakarta -PT. LEN Industri (Persero) segera merealisasikan pembangunan industri sel surya di Teluk Jambe Karawang, Jawa Barat, berkapasitas 60 MWp per tahun, kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kardaya Warnika."Pabrik untuk membuat solar cell itu akan segera berproduksi, diperkirakan akhir tahun depan atau akhir 2013 sudah aktif," katanya di sela-sela seminar di gedung Lembaga Pertahanan Nasional Jakarta, 
Kardaya mengatakan selama ini Indonesia masih harus membeli sel surya dari China atau negara lainnya karena belum bisa memproduksi sendiri.

"BPPT sudah punya teknologinya, tinggal dikembangkan saja, pokoknya semua kemampuan nasional dikumpulkan lah, masa kita tidak bisa bikin sendiri," katanya.

Rencananya, kata dia, produksi sel surya dalam negeri tidak hanya dipasarkan ke pemilik/pengelola gedung bertingkat namun juga untuk pembangkit listrik dan perumahan yang tidak terjangkau jaringan listrik.

Sumber  : ANtara News





Indonesia harus bangun industri sel surya
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar mengatakan Indonesia harus membangun industri sel surya untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan mengurangi ketergantungan impor sel surya. "Indonesia sudah mengembangkan teknologi tenaga surya sejak 1980, tapi sampai sekarang belum ada industrinya sehingga kita tergantung dengan produk impor," kata Marzan pada peluncuran hasil studi kelayakan industri sel surya di Indonesia, di Jakarta,


Indonesia mempunyai potensi energi surya yang sangat besar yaitu 4,8 kWh/m2/ hari setara dengan nilai peak sun hour (PHS) sebesar 4,8 jam/hari tapi pemanfaatan untuk energi masih sangat rendah. Tercatat hingga 2011 total aplikasi baru mencapai 17 MWp. Jika dibandingkan dengan kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia sebesar 33,7 GW, maka kontribusi tenaga surya untuk pembangkit listrik baru sebesar 0,05 persen.

Berdasarkan Perpes No 5 Tahun 2006 pemerintah sudah mencanangkan target memperbesar 
kontribusi sumber energi terbarukan dalam bauran energi sampai dengan 17 persen termasuk tenaga surya sebesar 0,2-0,3 persen pada 2025. Menurut Marzan, untuk mengejar target tersebut diperlukan sekitar 0,8-1,0 GW kapasitas terpasang PLTS. 



Maka diperlukan penambahan kapasitas 65 MW per tahun tapi pemanfaatannya masih rendah hanya 2,5 MW per tahun. "Untuk memenuhi target itu kita harus membangun industri sel surya karena tidak mungkin sel surya kita impor semua. Karena itu, BPPT melakukan studi kelayakan pembangunan industri sel surya di Indonesia dan dari empat teknologi yang diuji kristalin silicon yang paling tepat," kata Marzan.
 saat ini Indonesia masih mengimpor komponen teknologi sel surya hingga 60 persen.

Hasil studi menunjukkan teknologi kristalin silikon lebih dipilih dibandingkan Thin Film sebab teknologinya lebih baik, dari pertimbangan biaya investasi kristalin silikon lebih kecil sebab bisa dibagi menjadi beberapa industri tersendiri. Setelah dihitung, investasi industri surya menggunakan kristalin silikon sebesar 45,2 juta US dolar mampu menghasilkan 60 MW. Sementara jika mengimpor harga sel surya mencapai satu juta dolar per watt peak.

Disamping itu, kristalin silikon mempunyai masa pemanfaatan yang lebih panjang mencapai 25 tahun dibandingkan Thin Film yang rata-rata hanya 10-15 tahun. "Dengan adanya industri, kita juga bisa mengendalikan kualitas sehingga ke depan sel surya yang beredar di Indonesia yang berkualitas baik," kata Marzan.  Sumber  : ANtara News



Pabrik Perusahaan BUMN di bidang elektronik industri dan prasarana, yang akan dibangun di atas lahan seluas 28 hektar itu merupakan lahan bekas pabrik tekstil PT Industri Sandang Nusantara. Proses pengalihan hak lahan itu sudah dilakukan dan ditargetkan tuntas pada Juni 2012.


Pembangunan pabrik produk berbasis semi konduktor itu merupakan bagian dari rencana strategi Len dalam membangun "Len Techno Park". Di kawasan itu akan berdiri industri berbasis teknologi tinggi selain industri fotovoltaik juga industri ICT, industri persinyalan KA dan industri elektronik pertahanan.

Tahap awal pembangunan pabrik akan didirikan di lahan seluas 20.000 meter persegi untuk menampung mesin-mesin produksi fotovoltaik berkapasitas 10 MWp, secara bertahap kapasitas produksi akan ditingkatkan menjadi 350MWp."Industri fotovoltaik Len dimulai dengan kapasitas 10 MWp di Bandung, semuanya akan dipindahkan ke Karawang. Teknologi yang digunakan adalah kristalin silikon c-Si yang bahan bakunya banyak ditemukan di Indonesia

Ke depan, seluruh komponen produksi modul surya sudah bisa diproduksi di Karawang, dan bisa menyiapkan kebutuhan kristalin silika selain bagi produksi modul sel Len maupun tujuh produsen modul surya lainnya yang ada di Indonesia.Pertimbangan teknologi ini berdasarkan hasil studi kelayakan BPPT dimana pabrik sel surya kristal silikon dapat dilihat sebagai solusi awal yang tepat untuk membangun industri sel surya di Indonesia.

Jenis sel kristalin silikon banyak digunakan produsen sel dunia, pangsa pasar panjang, teknologi andal dengan efisiensi tinggi, investasi murah dan sudah ada beberapa perusahaan lokal yang bergerak di sisi hilir yakni industri perakitan modul surya."Secara bertahap industri ini dapat diarahkan ke hulu serta dapat mendorong kemandirian bahan baku karena Indonesia memiliki cadangan pasir silika sangat besar yakni 17 miliar metrik ton,


Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan studi kelayakan terkait teknologi yang layak digunakan untuk mengembangkan sel surya.“Kita meninjau 4 teknologi, ada sel surya jenis Kristalin silikon dan ada 3 macam Thin Film, yaitu DsTe, CIGS dan a-Si,” ungkap Kholid Akhmad, Chief Engineer studi tersebut yang juga peneliti di BPPT.
Studi melihat aspek investasi teknologi, efisiensi dan kemampuan konversi energi. Hasil studi menunjukkan bahwa teknologi kristalin silikon paling tepat.“Kelebihannya, investasinya untuk daya yang sama sekitar 60 MW per tahun, dananya sekitar 450 miliar. Sementara untuk Thin Film bisa 2 atau 3 kalinya,” kata Khalid.
Soal konversi energi, kemampuan kristalin silikon adalah 16-18 persen. Artinya, untuk 100 Watt daya yang datang, ada 16-18 Watt listrik yang dihasilkan. Untuk Thin Film, kemampuannya hanya 10-12 persen.Dengan teknologi kristalin silikon, industri listrik tenaga surya bisa dibagi menjadi 4 industri yang berbeda. Fokus saat ini adalah mengembangkan industri sel surya.

No comments:

Post a Comment